Sosialisasi Rancangan Kurikulum Program Studi D-IV SIB

Tuesday, 30 November 2021 - 22:25 Oleh Faiz Ushbah Mubarok

MALANG –  Kemendikbudristek membuat program baru yaitu Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Jurusan Teknologi Informasi (JTI) Politeknik Negeri Malang (Polinema) dalam menyusun rancangan kurikulum program studi (prodi) D-IV SIB yang merupakan prodi baru di polinema ingin menerapkan program MBKM juga. Maka diadakan acara Sosialasi Rancangan Kurikulum Program Studi D-IV yang inginnya nanti bisa membuka wawasan lebih luas lagi tentang bagaimana cara implementasi Program MBKM ini ke prodi baru JTI nanti. Acara ini dihadiri oleh Sri Palupi Prabandari Ph.D Ketua Program Studi S1 Kewirausahaan di Universitas Brawijaya sebagai narasumber dan juga 30 dosen JTI. Sosialisasi ini diadakan di Gedung Teknik Sipil – Teknologi Informasi, Polinema pada tanggal 29 November 2021.

Narasumber menceritakan bagaimana sistem di Program Studi beliau dalam menerapkan program MBKM ini. Dimulai dari Grand Design, Tugas dan peran setiap pihak, Mekanisme Pelaksanaan, Jenis-jenis penyetaraan MBKM di Prodi S1 Kewirausahaan, Mata Kuliah yang bisa dikonversi dalam MBKM, Tahapan pelaksanaan, dan juga sharing tentang kelas-kelas praktisi yang selama ini sudah di lakukan oleh Prodi S1 Kewirausahaan.

MBKM harus berpegang pada capaian lulusan, agar lebih terarah dan tidak terlalu jauh dari topik jurusan. Selain itu diperlukan pemetaan mahasiswa pula, agar pihak jurusan lebih nyaman dan mudah dalam memantau. Nantinya mahasiswa yang tidak mengambil program MBKM mengikuti kelas seperti biasa. Sedangkan mahasiswa yang mengambil program MBKM tetap mengambil KRS tetapi tidak belajar di kelas, melainkan mengambil kelas praktisi. Peran pihak studi dalam memilih mata kuliah untuk mengkonversi nilai MBKM diharapkan memilih mata kuliah yang masih satu linear dan bisa mendukung keluaran lulusan. Mata Kuliah yang bisa dikonversi merupakan mata kuliah praktik. Tenaga praktisi juga perlu diperhatikan, karena jika menggunakan tenaga dari intern saja tidak mencukupi.

Selain itu, Pihak jurusan juga memiliki peranan untuk melakukan sosialisasi kepada para mahasiswa agar mereka tahu menahu informasi tentang MBKM. Meliputi cara mengikuti MBKM, Mata kuliah apa saja yang bisa dikonversi, dan cara kerja dari MBKM ini.

(MIR/ROW)

FGD Hasil Rancangan Kurikulum D-IV Sistem Informasi Bisnis (SIB)

Friday, 26 November 2021 - 15:01 Oleh Faiz Ushbah Mubarok

MALANG – Jurusan Teknologi Informasi Politeknik Negeri Malang mengadakan Kegiatan FGD Hasil Rancangan Kurikulim D-IV Sistem Informasi Bisnis (SIB). Kegiatan ini dihadiri oleh para dosen JTI dan para narasumber, yaitu Dr. Cahyo Crysidian, Andina Paramitha, Tony D. Susanto, S.T.,M.T.,Ph.D.,ITIL, COBIT, dan Asmaullahil Husna.  Kegiatan tersebut dilaksankan pada hari Kamis, tanggal 21 Oktober 2021 di Hotel Santika Premiere Malang.

Adapun beberapa bahasan yang disampaikan, seperti tahapan pembukaan program studi, profile lulusan, capaian pembelajaran lulusan, Rencana Pembelajaran Semester, dan masih banyak lagi.

Perguruan tinggi di Malang sebaiknya mendorong Stasion untuk selalu memperbaharui dokumen Pedoman Kebutuhan Industri Kota Malang. Kelompok keilmuan berdasarkan riset bukan operasi pengajaran. Hasil riset yang dimasukkan ke dalam Rencana Pembelajaran Semester bisa memperoleh nilai tinggi dari BAN PT. Menurut Time Higher Education, syarat world class university adalah telah memiliki minimal 1000 karya ilmiah dalam jurnal WoS atau Scopus dan memiliki minimal 100 karya ilmiah dalam jurnal tersebut per tahun. Jadi jika visi menjadi world class university tidak memungkinkan sebaiknya tidak menggunakan redaksi tersebut, bisa diganti menjadi “bereputasi internasinal”.

Jika mendengar Program Studi Sistem Informasi Bisnis maka yang menjadi ekspektasi utama adalah bisnis, sedangkan sistem informasi hanya menjadi pendukung dan alat dalam berbisnis sehingga tidak perlu mempelajari algoritma atau mata kuliah lain yang terlalu teknis, ujar Bu Andina Paramitha (21/10/21). Untuk menentukan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) sebaiknya FGD dengan mengundang technopreneur (sudah dilaksanakan) dan business analyst. Menurut Pak Tony, business analyst sebenarnya masih terlalu luas, bisa lebih spesifik misalnya dalam industri manufaktur atau keuangan, tetapi kembali lagi ke hasil survei dan peluang yang ada. Selain itu, kemampuan yang harus dimiliki: negosiasi, membuat bisnis canvas, mencari modal atau investor, mencari karyawan, memotivasi karyawan, manajemen SDM, akuntansi, marketing, melihat trend, mencari peluang, menghitung cost, menentukan BEP, dsb.

Dengan demikian, kegiatan ini diharapkan mampu menjadikan tim dosen dapat mengembangkan Rancangan Kurikulum D-IV Sistem Informasi Bisnis (SIB) sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Setelah acara selesai, dilanjutkan dengan penutupan dan dilakukan sesi dokumentasi foto bersama dengan narasumber.

(OSY/ROW)

WORKSHOP: PENGEMBANGAN BAHAN AJAR MATA KULIAH PROGRAM STUDI DIPLOMA DUA JALUR CEPAT PENGEMBANGAN PIRANTI LUNAK SITUS

Friday, 26 November 2021 - 13:14 Oleh Faiz Ushbah Mubarok

MALANG – Pada tanggal 2 November 2021 telah diadakan Workshop Pengembangan Bahan Ajar Mata Kuliah Program Studi Diploma Dua Jalur Cepat Pengembangan Piranti Lunak Situs bertempat di Hotel Grand Marcure. Walaupun acara berlangsung secara offline namun peserta dalam acara workshop tersebut tetap mematuhi protokol kesehatan. Program D2 fast Track yaitu lulusan smk bisa langsung menempuh D2 di Politeknik Negeri Malang secara gratis yang akan dimulai pada tahun ajaran baru 2022/2023. Pada program ini, bahan ajar dimulai dari beberapa rujukan yang up to date dan menyambung ke panduan praktikum. Panduan praktikum lebih banyak memberikan deadline untuk mahasiswa untuk melakukan sesuatu. Pada pembuatan modul dan bahan ajar buku ajar harus dilakukan sebelum jam mengajar dimulai serta tidak boleh memberatkan tetapi dapat bisa dipahami oleh mahasiswa. Pembuatan buku tersebut bisa dihibahkan untuk mendapatkan salary dalam rangka meningkatkan karya dosen.

Para dosen hendaknya menyempatkan membuat buku dalam suasana memaksa dengan cara mengikuti penelitian dengan keluaran buku. Penyemangat untuk membuat buku adalah hindari kata malas. Penelitian bisa dirubah menjadi buku ajar. Mengapa harus membuat buku? karena pembuatan buku tersebut merupakan salah satu sebagai tambahan dari bidang akademik. Buku juga bisa dibuat untuk kenaikan pangkat. Isi dari buku adalah muatan yang diajarkan sesuai dengan nama mata kuliah dan materinya sesuai.

Mengukur tingkat keberhasilan itu bukan saat mereka lulus tetapi setelah mahasiswa lulus 4-5 tahun apa yang didapatkan. Capaian pembelajaran harus sesuai dengan visi, misi dan filosofi.  Buku bisa diciptakan dengan mahasiswa pada saat mengajar. Disetiap buku modul harus ada evaluasi dan soal sebagai tolak ukur. RPS yang sudah dimiliki sudah menjadi outline dari buku ajar. Tugas-tugas kuliah dari mahasiswa dapat dikondisikan menjadi materi dan buku ajar berikutnya. Buku bisa diterbitkan dilembaga resmi di institusi tersebut dan mendapakan ISBN.

Dengan demikian, workshop ini diharapkan mampu menjadikan tim dosen dapat mengembangkan bahan ajar matakuliah program studi D2 Jalur Cepar Pengembangan Prianti Perangkat Lunak sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Setelah acara selesai, dilanjutkan dengan penutupan dan dilakukan sesi dokumentasi foto bersama dengan narasumber.

(OSY/ROW)

Workshop Perancangan Sistem Tugas Akhir, Magang, dan Wirausaha D-IV SIB

Friday, 26 November 2021 - 13:08 Oleh Faiz Ushbah Mubarok

MALANG – Jurusan Teknologi Informasi (JTI) Politeknik Negeri Malang (Polinema) sedang menyusun persiapan adanya program studi (prodi) baru yaitu D-IV Sistem Informasi Bisnis (SIB). Prodi baru ini dirancang dengan matang dan konsisten agar bisa melahirkan lulusan sesuai dengan target yang diinginkan. Untuk mendukung hal tersebut, diadakan Workshop Perancangan Sistem Tugas Akhir, Magang, dan Wirausaha D-IV SIB yang mengundang Ardiansyah Rachmat Akbar sebagai narasumber dan dihadiri oleh 30 dosen JTI. Acara ini bertujuan untuk membuka wawasan lebih luas lagi tentang apa itu ekonomi kreatif yang nantinya bisa dijadikan salah satu acuan sistem tugas akhir, magang, dan wirausaha di prodi baru ini. Kegiatan ini diadakan pada tanggal 24 November 2021 di Gedung Teknik Sipil – Teknologi Informasi Polinema.

Disampaikan bahwa saat ini ekonomi kreatif sedang dipandang di mata dunia. Ada empat hal yang menjadi dasar dari ekonomi kreatif, yaitu Creative Capital atau Modal Kreatif dimana isi dari hal tersebut yaitu regulasi, SDM, Creative Space, dan Budaya. Dimulai dari regulasi yaitu sudah ada undang-undang yang mengatur terkait ekonomi kreatif bahkan di kondisi pandemi ini. Kota Malang sendiri pada tahun 2019 ditetapkan sebagai kota kreatif dengan ekosistem EKRAF terbaik Nasional oleh BEKRAF. Selain itu, Kota Malang juga ditetapkan sebagai Kawasan Ekonomi Kreatif dalam rencana strategis KEMENPAREKRAF 2020-2024. Dasar ekonomi kreatif yang kedua yaitu Sumber Daya Manusia (SDM). Hasil keluaran SDM pasti tergantung dengan treatment apa yang sudah dilaluinya. SDM Kota Malang kualitasnya sudah diakui secara internasional dan juga pelaku industrinya bisa melakukan adaptasi dari masa peralihan sebelum dan sesudah pandemi dengan mudah.

Saat ini, pihak swasta maupun pemerintah menjadikan pengembangan Destinasi, Desa Wisata, dan Creative Space sebagai fokus penggerak ekonomi nasional dengan pendekatan berbagai konsep. Di Kota Malang saja, ada banyak potensi ruang yang bisa dikembangkan menjadi Creative Space, seperti Coworking Space, Perguruan Tinggi, Kampung Tematik, Simpul Komunitas, Sentra Industri, Sentra UKM, Area Publik (taman kota), dan juga cagar budaya (preservasi). Tak lupa budaya juga jadi salah satu bagian dari Creative Capital karena Indonesia memiliki budaya yang bisa jadi competitive advantage dengan negara lain dan pastinya bisa dikembangkan ke bidang ekonomi kreatif.

Setelah penjelasan tentang Creative Capital, dijelaskan pula tentang Creative Challenge atau tantangan yang ada, Creative Pattern atau Pola pengembangan industri kreatif berbasis kolaborasi komunitas, isu penting yang sedang dihadapi saat ini, transformasi digital, dan kolaborasi akademisi. Dosen JTI sebagai peserta sangat antusias dalam workshop ini. Hal ini terlihat dari diskusi dan tanya jawab aktif setelah narasumber memberikan penjelasan.

(MIR/ROW)