Tim Dosen Polinema Dampingi UMKM Pandawa Food & Cookies Bunulrejo Beralih ke Pencatatan Keuangan Digital dan Perkuat Branding Produk

Tim Dosen Polinema Dampingi UMKM Pandawa Food & Cookies Bunulrejo Beralih ke Pencatatan Keuangan Digital dan Perkuat Branding Produk

01 Oct 2026 • 4 menit baca

Malang, 1 Oktober 2026 – Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Jurusan Teknologi Informasi Politeknik Negeri Malang (Polinema) melaksanakan pelatihan dan pendampingan penerapan sistem informasi keuangan digital sekaligus penguatan branding bagi UMKM Pandawa Food & Cookies di Kelurahan Bunulrejo, Kota Malang, pada 21 September 2026 Kegiatan ini dilakukan untuk membantu mitra meninggalkan pencatatan keuangan manual dan menghadirkan kemasan produk dengan identitas merek yang lebih kuat.

Lokasi UMKM Pandawa

Tim PkM diketuai oleh Meyti Eka Apriyani, dengan anggota Elok Nur Hamdana, M. Unggul Pamenang, Agung Nugroho Pramudhita, Deddy Kusbianto Purwoko Aji, dan Dimas Wahyu Wibowo. Kegiatan ini didanai melalui skema DIPA Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) Politeknik Negeri Malang.

Usaha Rumahan dengan Produk Diminati, Namun Terkendala Pembukuan dan Kemasan

Pandawa Food & Cookies merupakan usaha rumahan yang berdiri sejak 2015 di Bunulrejo dan memproduksi kue kering, roti, serta rice box. Usaha ini menghasilkan sekitar 500 hingga 700 kemasan produk setiap bulan, dengan lonjakan permintaan saat musim liburan dan hari raya. Sekitar 60 persen penjualan berasal dari toko fisik, sedangkan 40 persen lainnya dari pemesanan daring dan reseller. Meski produknya sudah diminati pasar, hasil observasi awal tim menemukan dua persoalan utama. Pertama, pemasukan dan pengeluaran masih dicatat di beberapa buku tulis terpisah tanpa format baku, sehingga pemilik usaha kesulitan mengetahui posisi laba rugi, arus kas, dan biaya produksi secara akurat. Keuangan pribadi dan keuangan usaha juga belum dipisahkan dengan jelas. Kedua, kemasan produk masih polos tanpa logo maupun identitas visual, sehingga kalah menarik dibanding produk pesaing meskipun dari segi rasa dan kualitas sebanding.

Pelatihan Berbasis Transaksi Nyata

Kegiatan dilaksanakan melalui lima tahap, yaitu persiapan dan identifikasi kebutuhan, pelatihan pengelolaan keuangan digital, penerapan sistem informasi keuangan digital, pendampingan dan optimalisasi, serta evaluasi dan keberlanjutan. Pada sesi pelatihan, tim menyampaikan konsep dasar pengelolaan keuangan usaha, termasuk pentingnya memisahkan kas pribadi dan kas usaha. Materi disampaikan melalui ceramah interaktif dan studi kasus yang diambil langsung dari transaksi harian Pandawa Food & Cookies. Melalui latihan tersebut, pemilik usaha untuk pertama kalinya dapat melihat secara terstruktur berapa biaya produksi per kemasan dan berapa margin yang tersisa setelah seluruh pengeluaran diperhitungkan.

Pelatihan dengan owner

Setelah pelatihan, tim mendampingi mitra membuat akun, memasukkan data transaksi awal, dan mencatat transaksi harian pada sistem informasi keuangan digital berbasis web. Sistem ini menggantikan tiga buku tulis terpisah dengan satu tempat pencatatan yang otomatis merekap pemasukan, pengeluaran, dan laporan laba rugi sederhana. Pendampingan tidak berhenti pada cara mengoperasikan tombol; pemilik usaha juga dilatih membaca laporan laba rugi, arus kas harian, dan grafik tren penjualan pada dashboard, lalu menjelaskan maknanya dengan kata-kata sendiri. Bersamaan dengan pendampingan keuangan, tim merancang ulang identitas visual usaha, meliputi logo, kemasan, dan konten promosi media sosial, menggunakan pendekatan design thinking. Prosesnya dimulai dari memahami karakter produk dan target pasar hingga menguji beberapa alternatif desain kemasan bersama pemilik usaha. Kemasan baru kini dilengkapi logo yang konsisten, warna yang mencerminkan karakter produk, serta informasi yang membangun kepercayaan konsumen.

Website Keuangan

Evaluasi dilakukan melalui observasi partisipatif selama pendampingan serta angket sebelum dan sesudah kegiatan. Uji kemudahan penggunaan dengan metode System Usability Scale (SUS) menghasilkan skor rata-rata 79,5 dari 100, yang termasuk kategori acceptable. Aspek konsistensi tampilan dan kemudahan navigasi menu mendapat penilaian tertinggi, sementara kejelasan istilah akuntansi pada laporan masih memerlukan pendampingan tambahan. Selama pelaksanaan, tim menghadapi tantangan adaptasi mitra yang sudah bertahun-tahun terbiasa dengan buku tulis. Untuk mengatasinya, tim menambah sesi pendampingan lanjutan dan menyusun panduan tertulis sederhana yang dapat dibaca ulang secara mandiri. Sebagai bentuk keberlanjutan, tim bersama pemilik usaha menyusun dokumen panduan penggunaan sistem informasi keuangan digital dan branding usaha. Panduan ini memuat langkah pencatatan transaksi harian, tata cara menyusun laporan laba rugi sederhana, serta prinsip menjaga konsistensi identitas visual pada kemasan dan konten promosi.

Gambar kemasan

Ke depan, tim merekomendasikan pengembangan strategi pemasaran digital melalui media sosial dan marketplace agar identitas visual baru berdampak pada penjualan. Dalam jangka panjang, pencatatan keuangan yang tertib diharapkan membuka peluang mitra mengakses pembiayaan formal seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR), sementara merek yang lebih kuat memperbesar peluang kerja sama distribusi dengan ritel modern maupun platform pemasaran yang lebih luas. Hasil kegiatan ini telah dipublikasikan dalam DEDIKASI SAINTEK: Jurnal Pengabdian Masyarakat, Volume 5 Nomor 2, Agustus 2026 (https://doi.org/10.58545/djpm.v5i2.936).

Tautan Tersalin! Link artikel telah disimpan ke clipboard Anda.